KenaliIndonesia.com, BANYUWANGI Di tengah arus modernisasi yang menghantam berbagai sudut nusantara, ada satu desa di Banyuwangi yang masih teguh mempertahankan identitas aslinya. Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, adalah rumah bagi Suku Osing—suku asli Banyuwangi yang hingga kini masih menggunakan bahasa unik dan menjalankan ritual-ritual kuno yang diwariskan secara turun-temurun.
Bahasa Osing: Bahasa “Rahasia” yang Hampir Punah
Keunikan utama Desa Kemiren terletak pada penggunaan bahasa Osing dalam kehidupan sehari-hari. Bahasa ini memiliki ciri khas penambahan huruf “Y” dalam berbagai kata, seperti “kopi” yang diucapkan “kopay”, “makan” menjadi “makany”, atau “rumah” yang berubah menjadi “omahy”.
Bahasa Osing bukanlah dialek biasa, melainkan bahasa dengan struktur dan kosakata yang berbeda dari bahasa Jawa pada umumnya. Nama “Osing” sendiri konon berasal dari kata “ora singo” yang berarti “tidak mau” dalam bahasa Jawa, merujuk pada sikap suku ini yang menolak menerima pengaruh budaya luar dan tetap mempertahankan tradisi leluhur.
Yang membuatnya semakin menarik, bahasa Osing kini terancam punah karena generasi muda yang mulai beralih ke bahasa Indonesia dan Jawa modern. Oleh karena itu, penggunaan bahasa Osing di Desa Kemiren kini dianggap sebagai tradisi yang harus dilestarikan.
Ritual Barong Ider Bumi: Tradisi Sakral Berusia Ratusan Tahun
Salah satu ritual paling sakral yang masih dijalankan adalah Barong Ider Bumi, sebuah upacara tolak bala yang dilaksanakan setiap tanggal 2 Syawal atau hari kedua Idul Fitri. Tradisi yang telah berlangsung sejak sekitar tahun 1800-an ini berawal dari upaya mengatasi wabah penyakit (pagebluk) yang melanda desa.
Menurut kepercayaan masyarakat setempat, ritual ini bermula ketika para sesepuh desa berziarah ke makam Buyut Cili—sosok yang dipercaya sebagai pelindung desa. Melalui mimpi, mereka mendapat petunjuk untuk menggelar arak-arakan barong mengelilingi desa sambil melantunkan tembang macapat sebagai doa dan pemujaan kepada Tuhan.
Dalam prosesi ini, barong yang berusia ratusan tahun diarak oleh ribuan warga mengelilingi desa. Yang menarik, masyarakat percaya bahwa barong bukan sekadar pertunjukan, melainkan media komunikasi antara manusia dengan roh leluhur yang masih mengandung unsur mistis.
Pasar Kampoeng Osing: Pelestarian Budaya Melalui Kuliner
Setiap hari Minggu, Desa Kemiren menggelar Pasar Kampoeng Osing yang unik. Para pedagang mengenakan pakaian adat Suku Osing berwarna hitam sambil menjual berbagai kuliner khas seperti pecel pitik, tape ketan, dan jajanan tradisional lainnya. Suasana pasar semakin hidup dengan pertunjukan musik lesung dan jaranan yang dimainkan oleh warga lokal.
Pasar ini bukan sekadar tempat jual-beli, melainkan ajang pelestarian budaya yang dikemas dalam bentuk wisata kuliner. Wisatawan tidak hanya membeli makanan, tetapi juga merasakan atmosfer kehidupan Suku Osing yang autentik.
Tradisi Tumpeng Sewu dan Gedhogan
Selain Barong Ider Bumi, Desa Kemiren juga memiliki tradisi Tumpeng Sewu—ritual makan bersama dengan menggelar seribu tumpeng sebagai bentuk tolak bala yang dilaksanakan setiap bulan Dzulhijjah. Tradisi ini melambangkan kebersamaan dan rasa syukur masyarakat.
Ada pula tradisi Gedhogan, kegiatan yang dilakukan ibu-ibu berusia 60 tahunan sebagai bentuk kehangatan dan kegemaran berbagi dalam masyarakat. Tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong yang masih kental di tengah masyarakat Osing.
Arsitektur dan Kehidupan Tradisional
Desa Kemiren masih mempertahankan rumah-rumah adat Osing dengan arsitektur khas. Bangunan tradisional ini memiliki ciri khusus dalam struktur, ornamen, dan filosofi yang mencerminkan pandangan hidup Suku Osing.
Di bidang pertanian, masyarakat Kemiren masih menggunakan cara tradisional seperti membajak dengan kerbau karena dianggap lebih ramah lingkungan. Mereka juga membuat “panjer kiling”—kincir angin raksasa dari bambu untuk mengusir burung dari sawah, serta “paglak”—bangunan bambu setinggi 6-7 meter tempat musisi memainkan angklung.
Pelestarian di Era Modern
Desa Kemiren ditetapkan sebagai Desa Wisata Adat Osing pada tahun 1995 dan masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024. Status ini membantu pelestarian budaya sambil memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat.
Melalui wisata budaya, generasi muda Osing kini semakin sadar akan pentingnya melestarikan warisan leluhur. Berbagai program seperti pembelajaran bahasa Osing, workshop membatik, dan kursus tari tradisional menjadi cara modern untuk menjaga kontinuitas budaya.
Desa Kemiren membuktikan bahwa tradisi dan modernitas bisa berjalan beriringan. Di tengah gempuran globalisasi, desa ini berhasil mempertahankan “bahasa rahasia” dan ritual-ritual kuno sambil membuka diri terhadap wisatawan yang ingin belajar tentang kekayaan budaya nusantara yang autentik.
Sumber :
https://journal.literasisains.id/index.php/toba/article/download/104/46









