Desa Penglipuran Surga Tradisional di Bangli yang Wajib di Singgahi

Jelajahi keindahan Desa Penglipuran

Di antara gemerlap modernitas pariwisata Bali yang terus berkembang, tersembunyi sebuah permata budaya yang masih terjaga keasliannya. Desa Penglipuran terletak di Kabupaten Bangli, sekitar 45 kilometer dari Kota Denpasar, desa ini telah menarik perhatian dunia bukan hanya karena keindahan arsitektur adatnya, tetapi juga karena komitmen warganya yang luar biasa dalam menjaga kebersihan dan kelestarian warisan leluhur.

Desa Penglipuran bahkan masuk dalam daftar desa terbersih di dunia bersama Mawlynnong di India dan Giethoorn di Belanda yang merupakan sebuah pengakuan internasional yang membuktikan bahwa masyarakat adat Bali mampu berdampingan dengan alam secara harmonis, tanpa mengorbankan nilai-nilai tradisi yang mereka emban selama berabad-abad.

Sejarah dan Asal-Usul Desa Penglipuran

Nama “Penglipuran” diyakini berasal dari kata Pengeling Pura yang berarti “tempat suci untuk mengenang leluhur.” Menurut tradisi lisan yang berkembang di masyarakat setempat, leluhur warga Penglipuran berasal dari Desa Bayung Gede di Kintamani, yang kemudian berpindah ke lokasi saat ini atas perintah Raja Bangli pada masa lampau.

Identitas historis ini diperkuat oleh berbagai penelitian akademis. Widiastini et al. (2018) dalam jurnal International Journal of Social Sciences and Humanities mencatat bahwa Desa Penglipuran merupakan desa adat yang telah mempertahankan tata ruang pemukiman tradisional Bali (tri hita karana) secara konsisten selama ratusan tahun, menjadikannya salah satu contoh langka pelestarian budaya yang masih hidup di tengah arus globalisasi.

 

Konsep Tri Hita Karana: Filosofi di Balik Kerapian Desa

Salah satu alasan mengapa Desa Penglipuran begitu teratur dan lestari adalah penerapan konsep Tri Hita Karana. Filosofi hidup masyarakat Bali yang mengajarkan keselarasan antara manusia dengan Tuhan (Parhyangan), manusia dengan sesama manusia (Pawongan), dan manusia dengan alam (Palemahan).

Dalem & Suanda (2020) dalam Jurnal Kajian Bali menjelaskan bahwa implementasi Tri Hita Karana di Penglipuran terwujud secara konkret dalam tata ruang desa, yaitu jalan utama (natar) membentang lurus dari utara ke selatan, dengan deretan rumah adat yang identik di kanan dan kiri, masing-masing dilengkapi angkul-angkul (gerbang masuk) yang seragam. Di ujung utara berdiri pura utama, sementara di bagian selatan terdapat setra (kuburan), sesuai konsepsi kosmologi Bali tentang arah sakral (kaja-kelod).

Konsep inilah yang membuat setiap sudut Penglipuran tampak harmonis dan terencana, bukan karena renovasi modern, tetapi karena warisan tata ruang yang telah dijaga secara turun-temurun.

 

Arsitektur Adat yang Seragam dan Memukau

Salah satu daya tarik visual paling kuat dari Desa Penglipuran adalah deretan angkul-angkul (gerbang masuk rumah) yang seragam sepanjang jalan utama desa. Setiap keluarga diwajibkan oleh awig-awig (hukum adat) untuk mempertahankan tampilan gerbang rumah mereka sesuai pakem tradisional — menggunakan bahan-bahan alami seperti bata merah, batu padas, dan bambu.

Lebih dari itu, kawasan desa juga memiliki hutan bambu (Hutan Bambu Penglipuran) seluas sekitar 45 hektar yang mengelilingi pemukiman. Hutan ini tidak sekadar berfungsi sebagai penjaga ekosistem, tetapi juga sebagai pemasok bahan bangunan dan kerajinan bagi warga desa, sekaligus menjadi “paru-paru” desa yang menjaga kesejukan udara Bangli yang sudah sejuk secara alami.

 

Apa yang Bisa Dinikmati Wisatawan?

  1. Berjalan di Jalan Utama Desa

Menapaki jalan utama Penglipuran adalah pengalaman yang sulit dilupakan. Deretan angkul-angkul yang tertata rapi, berseling tanaman hias dan pohon-pohon rindang, menciptakan “koridor hijau” yang menenangkan jiwa.

  1. Menyaksikan Kehidupan Warga Sehari-hari

Penglipuran bukan museum, ini adalah desa yang benar-benar hidup. Wisatawan dapat menyaksikan warga menjalankan aktivitas sehari-hari: membuat sesaji, mengerjakan kerajinan bambu, atau sekadar bercengkerama di teras rumah.

  1. Menjelajahi Hutan Bambu

Hutan bambu yang mengelilingi desa menawarkan jalur trekking ringan dengan suasana yang sangat teduh dan tenang yang tentunya sangat berbeda dari keramaian wisata pantai Bali.

  1. Mencicipi Kuliner Tradisional

Beberapa warga membuka lapak kuliner tradisional Bali, termasuk loloh cemcem (minuman herbal khas Penglipuran dari daun cemcem), jaje bali (kue tradisional), dan berbagai olahan lokal lainnya.

  1. Berinteraksi dengan Pengrajin Lokal

Kerajinan bambu adalah salah satu produk unggulan Penglipuran. Wisatawan dapat melihat langsung proses pembuatan berbagai produk bambu. Mulai dari perabot rumah, tangga , hingga cendera mata , dan tentu saja rugi rasanya jika tidak membelinya sebagai oleh-oleh.

banner 336x280

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *