KenaliIndonesia.com, BANYUWANGI Di tengah modernitas yang terus menggerus tradisi, masih ada satu hidangan di Banyuwangi yang tetap dikeramatkan dan dipercaya memiliki kekuatan spiritual. Pecel Pitik, kuliner khas Suku Osing, bukan sekadar makanan biasa—ia adalah sajian sakral yang konon mampu “memanggil” rezeki dan keberkahan bagi siapa saja yang menyantapnya dengan khidmat.
Bukan Sekadar Pecel Biasa
Jangan tertipu dengan namanya. Pecel Pitik sama sekali berbeda dengan pecel pada umumnya yang menggunakan bumbu kacang dan sayuran. Hidangan sakral ini menggunakan ayam kampung muda sebagai bahan utama yang dipanggang utuh di atas perapian tradisional, kemudian disuwir-suwir dan dicampur dengan parutan kelapa muda serta rempah-rempah khas seperti kemiri, cabai rawit, terasi, daun jeruk, dan gula.
Yang membuatnya istimewa, proses pembuatan Pecel Pitik memiliki aturan spiritual yang ketat. Orang yang memasak tidak boleh banyak berbicara, harus dalam keadaan suci, dan dilarang mencicipi makanan sebelum ritual adat dimulai. Bahkan ayam yang sudah dipanggang harus disuwir menggunakan tangan tanpa bantuan pisau atau alat lain—semuanya demi menjaga kesucian dan energi spiritual makanan.
Filosofi “Memanggil” Kebaikan
Nama “Pecel Pitik” sebenarnya bukan merujuk pada bahan utamanya (pitik = ayam dalam bahasa Jawa), melainkan merupakan akronim dari filosofi “kang diucel-ucel saben dinane ingkang apik” atau “diucel-ucel hang perkara apik” yang berarti “dilumuri dengan berbagai perkara yang baik”.
Ketua Adat Suku Osing Desa Kemiren, Suhaimi, menjelaskan bahwa filosofi ini mengandung makna mendalam: segala sesuatu yang dilakukan warga harus mengarah pada hal yang baik dan layak. Dalam kepercayaan masyarakat Osing, Pecel Pitik yang disantap dengan niat baik dan dalam suasana sakral dapat “memanggil” energi positif, rezeki, dan keberkahan untuk kehidupan.
Ritual Kesakralan yang Terjaga
Pecel Pitik tidak pernah disajikan sembarangan. Hidangan ini hanya muncul dalam momen-momen sakral seperti ritual Barong Ider Bumi setiap tanggal 2 Syawal, upacara Tumpeng Sewu, selamatan desa, dan doa kirim leluhur di Desa Kemiren. Kehadiran Pecel Pitik dalam ritual-ritual ini bukan kebetulan—ia adalah bagian integral dari proses spiritual yang dipercaya dapat menghubungkan dunia nyata dengan dimensi roh leluhur.
Dalam penyajiannya, Pecel Pitik selalu ditemani nasi putih berbentuk tumpeng yang melambangkan harapan untuk “mengangkat derajat manusia.” Sebagian disertai dengan tumpeng serakat berisi sayur mayur matang sebagai pelengkap. Kombinasi ini dipercaya menciptakan harmoni energi yang sempurna untuk mendatangkan berkah.
Ritual Sebelum Panen: Memanggil Rezeki Bumi
Tradisi Pecel Pitik bermula dari ritual sebelum masa tanam dan setelah panen sebagai bentuk syukur dan doa kepada Tuhan. Masyarakat Osing percaya bahwa dengan menyajikan makanan yang dimasak dengan penuh khidmat dan dimakan bersama-sama, mereka dapat “memanggil” rezeki dari bumi dan perlindungan untuk hasil panen yang melimpah.
Yang menarik, banyak warga yang memiliki pengalaman spiritual setelah menyantap Pecel Pitik dalam ritual adat. Mereka mengaku merasakan ketenangan batin, usaha yang lebih lancar, atau bahkan mendapat jodoh dan rezeki tak terduga dalam waktu tidak lama setelah mengikuti selamatan.
Kelangkaan yang Menambah Kesakralan
Seiring perkembangan zaman, Pecel Pitik semakin langka dan sulit ditemui. Hidangan ini hanya bisa dinikmati saat festival budaya yang diselenggarakan pemerintah atau di rumah makan khusus di sekitar Desa Kemiren. Kelangkaan ini justru menambah nilai kesakralannya—bukan hidangan yang bisa dimakan kapan saja, melainkan makanan istimewa yang harus “ditunggu” momennya.
Mantan Menteri Pariwisata Arief Yahya yang pernah mencicipi Pecel Pitik dalam ritual Barong Ider Bumi mengakui keunikan hidangan ini: “Makanan ini khas sekali. Jarang sekali makan ini. Makanya saya tadi langsung memesan untuk di rumah”.
Warisan Spiritual yang Harus Dilestarikan
Pecel Pitik membuktikan bahwa kuliner Indonesia tidak hanya soal cita rasa, tetapi juga nilai spiritual dan filosofi hidup. Dalam setiap suapan Pecel Pitik yang disantap dengan khidmat, terkandung doa, harapan, dan kepercayaan akan datangnya rezeki dan keberkahan.
Bagi masyarakat modern yang skeptis, Pecel Pitik mungkin “hanya” makanan biasa. Namun bagi Suku Osing, hidangan ini adalah jembatan antara dunia fisik dan spiritual cara mereka “memanggil” kebaikan dan berkah untuk kehidupan yang lebih baik.
Sumber :
https://biz.kompas.com/read/2017/07/01/122205828/pecel.pitik.makanan.pengiring.ritual.suku.osing









