KenaliIndonesia.com, MALANG Di tengah masalah sampah yang kian menumpuk, segelintir pelaku UMKM di Kota Malang justru melihat peluang emas. Mereka tidak memandang limbah sebagai masalah, tetapi sebagai bahan baku bernilai ekonomi tinggi yang bisa disulap menjadi produk kreatif dengan harga jutaan rupiah. Kisah inspiratif ini membuktikan bahwa kreativitas dan kegigihan mampu mengubah sampah menjadi berkah, sekaligus berkontribusi pada kelestarian lingkungan.
Berikut kisah sukses beberapa UMKM Malang yang berhasil mengubah limbah menjadi produk bernilai tinggi dan menginspirasi banyak orang!
Yust Collection: Dari Tutup Gelas Mineral Jadi Piring Plastik Tahan Lama
Ernik Yustiana, pemilik Yust Collection yang berdomisili di Jalan Binor VIII/8, Bunulrejo, Kota Malang adalah sosok inspiratif di balik transformasi limbah nonlogam menjadi produk bernilai tinggi. Perjalanannya dimulai sejak 2011 ketika ia mulai bereksperimen dengan sampah seperti koran bekas, plastik kresek, hingga tutup gelas kemasan air mineral.
Siapa sangka, tutup gelas kemasan air mineral yang biasanya langsung dibuang bisa diubah menjadi piring plastik yang awet dan tahan lama. Tidak hanya piring, Yustin juga mengolah berbagai sampah seperti kertas, plastik, sisa kain, dan kulit menjadi produk kerajinan seperti aksesori, tas, lampu belajar, tempat pensil, tempat tisu, dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
Sebelumnya, Yustin adalah pembatik tulis profesional. Namun, sejak konversi minyak tanah ke LPG pada 2015, usaha batiknya mengalami kemunduran. Tidak menyerah, ia justru melihat potensi besar dari limbah nonlogam yang mudah ditemukan di sekitarnya dan mulai mengembangkan Yust Collection.
Bertahan di Masa Pandemi dengan Masker Kain Perca
Saat pandemi COVID-19 melanda, banyak UMKM terpuruk. Tapi Yust Collection justru bertahan dengan membuat masker dari kain perca. Strategi ini tidak hanya menyelamatkan usahanya, tapi juga membuka peluang baru.
“Saat pandemi kami sempat terpuruk, tapi bisa bertahan dengan membuat masker dari kain perca. Setelahnya, kami mulai memanfaatkan perca kain untuk membuat tas dan kami coba merambah dunia fesyen. Bermacam-macam bentuk tas dari bahan daur ulang plastik dan perca kain ini kami beri merek Tsuy,” ungkap Yustin saat diwawancarai di workshopnya, Senin (3/2/2025).
Kini, produk fesyen dengan merek Tsuy menjadi salah satu andalan Yust Collection dan laris di pasaran. Tas-tas daur ulang ini tidak hanya ramah lingkungan, tapi juga memiliki desain yang estetik dan berkualitas tinggi.
Memberdayakan Warga dan Mimpi Jadi Pusat Daur Ulang
Bagi Yustin, bisnis ini bukan hanya tentang mencari keuntungan, tetapi juga membantu pemerintah dalam pengelolaan sampah dan memberdayakan warga sekitar. Ia melibatkan warga dalam proses produksi, sehingga menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan.
“Saya ingin menjadikan Yust Collection ini sebagai usaha ramah lingkungan dan memberdayakan banyak warga sekitar. Mimpi saya menjadikan Yust Collection ini sebagai pusat produksi daur ulang di Kota Malang,” ujarnya penuh optimisme.
UMKM yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) sejak 2019 ini kini memiliki dua lini usaha: daur ulang dan batik tulis dengan merek Ernik Mbo. Di tahun yang sama, Yustin bersama beberapa pembatik di Bunulrejo mendirikan Komunitas Batik Kantil untuk melestarikan seni batik tulis tradisional.
Rojo Keling: Limbah Kayu Jadi Furniture dan Aksesori Premium
Selain Yust Collection, ada juga Rojo Keling milik Mario Corpiony Bennet (Bennet) yang fokus mengolah limbah kayu menjadi produk premium. Pria berusia 34 tahun ini memproduksi kacamata kayu, jam tangan kayu, lampu belajar kayu, kursi, meja, booth, hingga desain kafe bernuansa kayu.
Kerajinan Rojo Keling sering ditemukan di berbagai tempat wisata Malang karena kualitas dan desainnya yang sangat menarik. Dengan memanfaatkan limbah kayu yang seharusnya dibuang, Bennet berhasil menciptakan produk bernilai tinggi yang diminati pasar lokal hingga mancanegara.
Program Moklet Berdampak: Edukasi Daur Ulang Limbah Tekstil
Gerakan daur ulang di Malang semakin masif dengan hadirnya Program Moklet Berdampak dari NextGen Pioneers SMK Telkom Malang. Program ini mengedukasi masyarakat tentang dampak fast fashion terhadap lingkungan dan melatih pelaku usaha kecil untuk mendaur ulang limbah tekstil menjadi produk bernilai jual.
Kegiatan yang dilaksanakan pada 8 Februari 2025 di Dawis Perum Ragil II, Kota Malang ini meliputi pelatihan praktik daur ulang, sosialisasi strategi pemasaran digital menggunakan Shopee, Tokopedia, dan TikTok Shop, serta pameran mini hasil produk daur ulang.
Manfaat dari program ini sangat nyata: meningkatkan keterampilan pengelolaan limbah tekstil, mendorong bisnis berbasis keberlanjutan, dan membuka peluang ekonomi baru melalui digitalisasi.
Upcycled Fashion: Limbah Berubah Jadi Karya High-End
Tren upcycled fashion juga mulai berkembang pesat di Malang. Pemerintah Kota Malang telah mensosialisasikan gerakan ini di lima kecamatan, mengajak siapa saja yang memiliki keterampilan menjahit, membordir, atau mendesain untuk ikut bergabung.
Konsep upcycled fashion mengubah limbah tekstil menjadi produk fesyen bernilai tinggi dengan sentuhan desain yang modern dan trendy. Ini bukan hanya solusi untuk mengurangi sampah tekstil, tapi juga membuka peluang bisnis baru bagi pelaku UMKM kreatif di Malang.
Kunci Sukses UMKM Daur Ulang di Malang
Ada beberapa faktor yang membuat UMKM daur ulang di Malang berhasil berkembang pesat:
1. Kreativitas Tanpa Batas: Pelaku UMKM tidak hanya mengolah limbah, tapi mengubahnya menjadi produk yang estetik dan berkualitas tinggi.
2. Semangat Pantang Menyerah: Seperti kisah Yustin yang bangkit dari keterpurukan dan menemukan peluang baru di tengah krisis.
3. Pemberdayaan Komunitas: Melibatkan warga sekitar dalam produksi sehingga menciptakan dampak sosial yang positif.
4. Dukungan Pemerintah: Program sosialisasi dan pelatihan dari pemerintah daerah membantu UMKM berkembang lebih cepat.
5. Pemasaran Digital: Memanfaatkan platform online untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Kisah sukses UMKM Malang dalam mengubah limbah menjadi produk bernilai jutaan rupiah membuktikan bahwa sampah bukan akhir dari segalanya, tapi awal dari peluang baru. Dengan kreativitas, kegigihan, dan kepedulian terhadap lingkungan, siapa pun bisa mengikuti jejak mereka dan berkontribusi pada ekonomi sirkular yang berkelanjutan.
Sumber Referensi:
- https://malangkota.go.id/2025/02/03/yust-collection-umkm-kreatif-ubah-sampah-jadi-rupiah/
- https://getimedia.id/2025/02/05/umkm-kreatif-daur-ulang-sampah-jadi-produk-bernilai-tinggi/
- https://www.jagoanhosting.com/blog/5-umkm-malang-penghasil-kerajinan-tangan-unik-dan-berkualitas/




